Andani mengupayakan dari dana sisa riset untuk melengkapi sendiri berbagai fasilitas di laboratoriumnya. Antara lain menambah dua mesin Polymerase Chain Reaction (PCR), elisa reader, winston blood, dan sekat inkubator.
Menurut Direktur Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Unand Padang itu, dia juga banyak menggunakan uang pribadi untuk membeli berbagai peralatan buat laboratoriumnya. Jumlah totalnya mencapai Rp 850 juta.
“Pada Desember 2019 lalu semua peralatan itu saya hibahkan. Sengaja saya melakukan itu agar kalau saya meninggal kelak seluruh barang tersebut masih bisa digunakan,” jelas Andani, serius.
Sesudah hibah itu dilakukan, jelas Andani, bantuan peralatan mulai berdatangan. Jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Seiring dengan itu laboratoriumnya disahkan untuk menangani Covid-19.
Sedangkan untuk petugasnya ditawarkan kepada yang punya pengalaman dengan molekuler. Mereka mahasiswa dan dosen dari berbagai bidang studi. Di antaranya Kedokteran, Farmasi, Biologi, Kimia, Peternakan, dan Pertanian.
Terkait dengan optimalisasi pemanfaatan laboratorium milik RS Unhas, Makassar, Andani optimis dalam waktu dekat bisa dilakukan. Asal semua sarannya dipenuhi.
“Tadi pagi saya sudah ketemu dan diskusi dengan Dirut RS Unhas, Prof Syafri Kamsul Arif, Ibu Dr Rizalinda (lab mikro), dan Prof Nasrum Massi (lab mikro/Wakil Rektor 4 Unhas). Sekaligus melihat laboratoriumnya yang lebih baik dari milik Universitas Andalas,” jelas Andani.(riel)





