Bersama Sahabat Desa, dari Pesisir Menuju yang Tak Terbatas

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui bantuan dana Direktorat Jenderal Pendidikan dan Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti), Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) bentuk program Sahabat Desa atau juga dikenal Desa Sehat Digital.

Program ini dilatarbelakangi akibat dampak negatif pemakaian gawai/gadget (hp) yang sering kali tidak tepat guna. Padahal, keberadaan gadget di era digitalisasi diharapkan bisa menunjang pembelajaran, usaha maupun pekerjaan bisa lebih efektif dan efesien.

Bacaan Lainnya

Program Sahabat Desa sendiri hadir memberikan pelatihan di tengah masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda hingga orang tua. Berlokasi di Pesisir Pantai Bintaro, Kabupaten Jeneponto, Sahabat Desa beranggotakan 4 yang masing-masing dari program studi yang berbeda.

Harlina selaku ketua, Muhammad Husni, Nurhaliza dan Nur Alamsyah masing-masing sebagai anggota. Didampingi dosen pembimbing Dr. Sultan, S.Pd.,M.Pd dari Fakultas Bahasan dan Sastra Indonesia UNM.

Menurut keterangan Harlina, Program ini dibuat untuk membantu pengembangan hidup anak Pesisir pantai yang telah putus sekolah namun kecanduan gawai (Hp).

“Anak-anak yang putus sekolah ini hanya karena kurang beruntung, bukan berarti masa depan mereka suram. Kemudian, telah terkontaminasi oleh kecanduan gawai secara tidak sehat, makanya kami berusaha menjadi tim terapi melalui 10 program Desa Sehat Digital,” ucap Halirna kepada infosulsel.com, Selasa (6/10/2020).

Herlina menjelaskan, dengan adanya kegiatan dari program Sahabat Desa ini, kekayaan alam dan laut di daerah tersebut bisa pemuda lebih kreatif dan inovatif. Salah satunya, pengolahan rumput laut yang menjadi salah satu sumber mata pencarian warga di daerah tersebut.

Selain kegiatan edukasi dan praktik pemanfaatan digitalisasi, Sahabat Desa juga menyediakan perpustakaan apung yang diberi nama Sahabat Desta.

“Salah satu kegiatan kami itu ada pengolahan rumput laut menjadi keripik terpilah, dan pelatihan literasi, yang masing-masing pelatihan ini akan ditampilkan dan diperkenalkan melalui video,” jelasnya mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini.

“Kita juga ada perpustakaan apung sahabat desta, yang di rancang dari perahu bekas nelayan yang tidak lagi digunakan masyarakat disana,” lanjut Harlina atau kerap disapa Lina.

Tak hanya itu, program Sahabat Desa ini menyediakan situs wordpress sebagai wadah publikasi agar karya tulisan anak-anak dan pemuda dapat dibaca oleh masyarakat umum. Selain wordpress, juga ada Channel YouTube Sahabat Desa sebagai sarana pemasaran rumput laut hasil buatan warga setempat.

“Situs wordpress, dimana ini akan menjadi tempat untuk mengunggah tulisan anak-anak sahabat desta agar dapat dibaca oleh masyarakat luas. Tentunya sebelum mereka membuat tulisan kami akan memberikan pelatihan dan pendampingan,” ungkap Lina.

“Selain itu ada juga chanel youtube sahabat desta yang akan menjadi tempat pemasaran kripik rumput laut yang telah mereka buat, sehingga jangkauan pasarnya bisa lebih luas tak terbatas hanya pada desa mereka,” demikian kata Lina. (rani/andi)

Pos terkait