Usai menjalani test kesehatan, atlet kembali menjalani test tambahan yakni test fisik di ruang rapat kantor KONI lantai dua. Atlet diwajibkan menjalani tes vertical jump (melompat lurus ke atas) untuk mengukur kekuatan kaki yang dinilai dengan mengukur kemampuan lompatan, medicine ball (gerakan melempar dan menangkap bola).
”Ini untuk meningkatkan kecerdasan gerak kinestika, horizontal jump dan half Squat. Sementara test jump untuk melatih kekuatan otot perut, lengan, punggung dan lengan dan gerakan split yang berguna untuk melatih kelenturan otot,” lanjut Syamsuddin Umar.
Selain itu test mengukur kecepatan reaksi tangan dan kecepatan reaksi kaki, juga dilakukan. Penguji test yang merupakan akademisi bergelar Doktor dari Fakultas Olahraga Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menguji kecepatan reaksi tangan dengan cara atlet menepuk tangan sekali sambil penangkap penggaris yang dilepaskan penguji.
Selanjutnya kecepatan reaksi kaki dilakukan atlet dengan menangkap penggaris yang dibuang oleh penguji menggunakan sebelah kaki, kiri atay kanan. Test kecepatan reaksi ini diukur berdasarkan jumlah angka yang tertera pada penggaris yang telah ditangkap oleh tangan atau kaki. Semakin tinggi angka tersebut maka ukuran reaksinya dianggap rendah.
Syamsuddin Umar menyebut, test psikolog ini untuk memantau pengaruh latihan yang dilakukan atlet selama ini sejak pasca test fisik tahap pertama dan sekaligus memantau perkembangan psikis mereka terutama menyangkut motivasi, self confindense, kosentrasi, emosi dan kedisiplinan.
Ketua KONI Sulsel Ellong Tjandra mengatakan apa yang dilakukan KONI Sulsel ini bukti keseriusan dan komitmen KONI Sulsel mempersiapkan atlitnya untuk menghadapi PON XX Papua.
”Test sepefti ini perlu dilakukan lagi. nanti hasilnya akan dievaluasi atas kondisi atlet kita selama tiga bulan terakhir yang telah menjalani condition training dan latihan kecabangan dibawah pelatih masing-masing cabor,” jelas Ellong.(riel)





