INFOSULSEL.COM,MAKASSAR – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulawesi Selatan (Sulsel) Ni’matullah mengaku prihatin dengan carut marutnya proses Pemilihan Walikota (Pilwali) Makassar.
‘’Ini ada masalah yang sangat serius yang terjadi di Pilwali Makassar. Dan yang terjadi ini adalah persoalan integritas,” cetus Ni’matulla saat ditemui INFOSULSEL.COM di rumah dinasnya di Jalan Abd Dg Sirua, belum lama ini.
Namun Ulla, sapannya tak merinci masalah serius yang dimaksud. Yang pasti sebagai satu-satunya partai pemilik kursi di DPRD Makassar yang mengusung calon walikota pasangan Moh Ramdhan Pomanto –Indira Mulyasari Paramastuti Ilham (DIAmi) di Pilwali Makassar, ia mengaku kecewa dengan apa yang telah terjadi saat ini.
Karena itu ia menegaskan kader Demokrat harus tegas dan tidak tinggal diam melihat persoalan ini. ‘‘Jangan diam. Lakukan sesuatu. Itu pesan Pak SBY. Harus ada pembanding wacana tentang apa yang terjadi saat ini,” tegas Ulla, sapan Wakil Ketua DPRD Sulsel ini.
Ia menegaskan #JanganDiam di baju Presiden RI-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), itu tidak hanya sekadar sebuah tulisan biasa, tapi sebuah pesan moral kepada Bangsa Indonesia.
‘’Itu pesan moral yang disampaikan oleh Pak SBY. Pesan itu ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya kepada seluruh kader Partai Demokrat untuk berani menegakan kebenaran, termasuk apa yang terjadi di Pilkada Makassar,” ujarnya.
Kalau hal ini didiamkan, lanjut politisi kelahiran 9 September 1965 ini orang-orang jahat akan menang dan berkuasa. Karena itu ia mengajak kepada seluruh masyarakat Makassar menggunakan haknya sebagai warga negara untuk menyuarakan demokrasi.
‘’Jangan takut untuk mengatakan sebuah kebenaran,” tegas Ulla.
#JanganDiam, sebuah kalimat pendek tertulis di belakang baju kaos yang dikenakan SBY dan ibu Ani Yudhoyono saat menyaksikan tayangan langsung final Liga Champions antara Real Madrid versus Liverpool, Minggu (23/5/2018) lalu. Di bagian depan baju tersebut juga bertuliskan ‘Do Something! Jika yang Baik Diam, yang Jahat Menang.’
‘’Kader (Demokrat) selama ini memang menjaga diri. Nah Pak SBY telah memberi kode. Lakukan sesuatu. Jangan kita diam,” tegas mantan aktivis mahasiswa era 80-an ini.
Kader Demokrat, lanjut Ulla, sapaanya, harus lebih peduli melakukan sesuatu. Aktivis mahasiswa di era 80-an ini, menyebut macam-macam telah terjadi di Pilwali Makassar.
Untuk diketahui paslon DIAmi terhempas dari kontestasi Pilwali Makassar. Penyebabnya, KPU Makassar bersikukuh tetap pada putusan Mahkamah Agung (MA). Sementara di sisi lain KPU mengabaikan putusan Panwaslu kota Makassar yang memerintahkan paslon nomor urut 2 tetap menjadi kontestan di Pilwali Makassar. Keangkuhan penyelenggara Pemilu ini memaksa Pilwali Makassar hanya satu calon.
Penulis : Asri Syahril





